dan aku pun tak berhak
Beberapa hari ini aq banyak mengumbar beberapa kalimat dengan maksud memberi nasihat pada beberapa kawan. Atau mungkin lebih tepatnya memberi masukan.
Dan aq terlalu berharap banyak atas kata2mu padaku sore itu.
Saat kau berkata akan menjauh dan membiarkan ini berjalan apa adanya. Dan kau pun bercerita padaku tentang rencanamu.
Aq percaya itu.
Tapi, di hari rabu itu, kau (lagi-lagi) berkata tak sesuai dengan apa yang kau katakan kemarin.
Aq tak bilang kau salah karena menyukainya. Dan aq pun tak pernah menyalahkan orang-orang akan rasa itu. Tapi kau kupikir sangat mudah terlarut dalam perasaanmu.
Jujur aq seperti menunggu bagaimana kisahmu. Apakah hatimu masi akan tetap sama padany atau tidak.
Aq lalu marah padamu. Marah karena perilakumu berbeda dari perkataanmu kemarin. Dan aq pun mungkin marah, karena kau saat berkata akan menjaga hati kuberi masukan agar benar2 menjaga hati, tidak kau pedulikan.
Dan aq sedikit kesal dengan dua kali bentakanmu beberapa hari ini.
Kemudian aq berpikir.
Ah, siapa aq menentukan apa yg harus kau lakukan dengan hidupmu. Aq mungkin berhak untuk memberi masukan padamu tapi ternyata aq tak berhak memutuskan apa yg harus kau lakukan.
Maaf….
Sekarang terserah padamu. Aq telah memberimu masukan atas apa yg kutau.
Jalanilah menurutmu.
Bila kau butuh kawan berbagi. Katakan saja.
….
