Semua sudah Berubah
Kejadian ini sudah lama. Tapi sampai sekarang tak bisa lepas dari pikiranku.
Beberapa hari yang lalu, di blog sahabatku bercerita ttg kamu. Iya tentang kamu. Sepertinya kau menjadi bahan pembicaraan beberapa hari ini.
Melihat blog sahabatku dan melihat blogmu juga, membuatku kembali teringat tentang bagaimana perasaanku kepadamu dan pertanyaan-pertanyaan yang selalu ada dalam benakku muncul kembali.
Rasa amarahku kepadamu dan kebencianku. Tapi kemudian aku merenung.
Sekarang bukan saatnya lagi kulihat kejadian di masa lalu. Sekarang saatnya kulihat apa yang terjadi sekarang.
Aku melihat kau dan “dia”.
Aku kasihan padamu dan padanya. Dan aku juga bingung dengan ketidakkonsistenanmu. Apa yang kaukatakan padaku tidak seperti apa yang kau katakan kepada sahabatku, orang yang mengatakan bahwa kau merasa ditinggalkan.
Kau berkata kepadaku : “Suatu saat kami akan berpisah“.
Sedangkan kau berkata kepada sahabatku, kalau kau sudah memilih org itu.
Kau mungkin merasa di judge, kau mungkin merasa apa yg kami lakukan bukan krn sayang padamu.
Sekarang terserah padamu. Kau sudah cukup dewasa dengan keputusanmu. Dan kau sudah cukup dewasa untuk menerima kejadian-kejadian lain yang akan mengikuti kehidupanmu karena pilihanmu.
Dan kau bilang kami meninggalkanmu? Maaf, justru kulihat kau meninggalkan kami.
Bahkan untuk moment yang kecil, membeli sepatu barumu, kami tidak ada di sana. Kau tidak melibatkan kami.
Sepertinya kau sudah lupa kejadian waktu kita TPB. Saat kau berkata kepadaku, kalau aku sudah jarang menghabiskan waktu bersama kau dan kawan2 ku lainnya, karena sibuk menghabiskan waktu bersama seorang sahabat.
Ternyata sekarang kata-kata itu harus diucapkan olehku.
Ada orang yang tidak senang kalau aku bertindak mengatasnamakan agama. Aku juga tidak melihat ini dari sisi agama saja. Tapi aku berhak mengatakan (dan tolong hormati pendapatku, seperti aku menghormati pendapat kau dan yang lainnya), bahwa kau memakai sebuah penutup kepala bernama jilbab. Tapi sayang, hal seperti ini tidak kau mengerti, hanya karena kau mengatasnamakan CINTA.
Aku masih bisa menyapamu kawan, dan menyapa “dia”
Tapi kedaan sudah tidak sama lagi.
Yang bisa kulakukan hanya sekedar senyuman dan sebuah kata “HAI”